Selasa, 17 Februari 2015

[017] Al Israa' Ayat 003

««•»»
Surah Al Israa' 3

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
««•»»
dzurriyyata man hamalnaa ma'a nuuhin innahu kaana 'abdan syakuuraan
««•»»
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
««•»»
descendants of those whom We carried [in the ark] with Noah. Indeed he was a grateful servant.
««•»»

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan juga nenek moyang mereka, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan Allah bersama-sama Nuh as dari topan. Mereka itu diselamatkan Allah dengan perantaraan wahyu-Nya kepada Nuh as yang mengandung perintah untuk membuat perahu, agar dia dan kaumnya yang setia terhindar dari siksaan Allah yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang mengingkari kenabiannya.

Hal ini mengandung peringatan bagi Bani Israel agar mengambil contoh dan ibarat dari peristiwa itu, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Nuh Alaihis Salam itu, karena sesungguhnya beliau itu adalah hamba yang sangat mensyukuri nikmat Allah. Dan peristiwa itu mengandung pelajaran pula bagi kaum Muslimin agar tetap beragama tauhid seperti Nuh as dan pengikut-pengikutnya, serta orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah.

Sebagai penjelasan dari penafsiran tersebut, perlu dikemukakan beberapa buah hadis yang menjelaskan bahwa Nabi Nuh Alaihis Salam itu Nabi yang sangat mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Pertama:
Hadis yang diriwayatkan oleh:
أخرج ابن مردويه عن معاذ بن أنس الجهني أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن نوحا إذا أمسى وأصبح قال : سبحان الله حين تمسون وحين تصبحون وله الحمد في السموات والأرض عشيا وحين تظهرون
Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Muaz bin Anas Al Juhany bahwa Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam bersabda : "Sesungguhnya Nuh, apabila telah datang waktu sore hari dan pada pagi hari, dia berkata: Maha Suci Allah ketika kamu berada di waktu sore dan di waktu Subuh dan bagi Nya-lah segala puji di langit dan bumi di waktu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur".

Kedua:
Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Al Baihaqy dan Al Hakim dari Salman Al Farisi, ia berkata:
كان نوح إذا لبس ثوبا أو أطعم طعاما حمد الله تعالى فسمى عبدا شكورا
Nabi Nuh Alaihis Salam, apabila telah mengenakan baju dan menyantap makanan dia memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka dinamakanlah dia "hamba yang sangat mensyukuri nikmat Allah.

Demikianlah doa dan tasbih yang diucapkan oleh Nabi Nuh Alaihis Salam yang patut dicontoh dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Yaitu anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh) di dalam bahtera. (Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur) kepada Kami dan selalu memuji dalam semua sepak terjangnya.
««•»»
descendants of those whom We carried with Noah, in the Ark. Indeed he was a grateful servant, giving thanks to Us frequently, and offering praise in whichever state he found himself.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:3

Senin, 16 Februari 2015

[017] Al Israa' Ayat 002

««•»»
Surah Al Israa' 2

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا
««•»»
waaataynaa muusaa alkitaaba waja'alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan
««•»»
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,
««•»»
We gave Moses the Book, and made it a guide for the Children of Israel —[saying,] ‘Do not take any trustee besides Me’—
««•»»

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa Dia telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa Alaihis Salam dan menjadikannya sebagai pedoman bagi Bani Israel. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh Musa Alaihis Salam agar mengatakan kepada kaumnya: "Janganlah kamu mengambil selain Allah sebagai penolong yang memberikan perlindungan dan menyelesaikan urusan-urusan kamu. Larangan yang ditujukan kepada kaumnya itu adalah larangan yang juga pernah disampaikan oleh Rasul-rasul sebelumnya dengan perantaraan wahyu-Nya yang mengandung pula perintah agar manusia menyembah kepada Allah semata dan larangan menyerikatkan sesuatu yang lain dengan Dia. Juga larangan meminta bantuan dalam segala urusan kecuali kepada-Nya.

Menyebutkan kitab Taurat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Musa Alaihis Salam, sebagai pedoman untuk kaumnya adalah untuk memberikan pengertian kepada kaum Muslimin, bahwa di antara tugas-tugas para Rasul ialah menyampaikan agama tauhid, sebagaimana tugas Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam kepada mereka, dan untuk mengingatkan mereka agar jangan meniru umat dahulu, yang setelah ditinggal oleh Rasul-rasul, mereka membuat-buat takwilan firman-firman Allah menurut kehendak Nya, dan mereka bergelimang dalam lembah kemurkaan Allah dan kesesatan yang nyata.

Itulah sebabnya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan keistimewaan Musa Alaihis Salam dan kelebihan Bani Israel dari bangsa-bangsa lain yang ada pada masa itu berulang kali di dalam Alquran dam menyebutkan pula nikmat Allah yang diberikan kepada mereka, dengan maksud agar hati nurani mereka tergugah, lalu kembali ke jalan yang benar, dan bernaung di bawah petunjuk-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Allah swt. berfirman: (Dan Kami berikan kepada Musa kitab) yakni kitab Taurat (dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel) dengan firman: ("Janganlah kalian mengambil penolong selain Aku") di mana mereka menyerahkan semua perkara mereka kepada-Nya. Menurut suatu qiraat lafal tattakhidzuu dibaca yattakhidzuu dengan versi ungkapan iltifat; dan huruf an adalah zaidah, sedangkan makna al-qaul diperkirakan keberadaannya.
««•»»
God, exalted be He, says: And We gave Moses the Scripture, the Torah, and made it a guidance for the Children of Israel [saying] that they should not choose beside Me any guardian, to whom they delegate their affairs (a variant reading [for yattakhidhū, ‘they should [not] choose’] is tattakhidhū, ‘you should [not] choose’, thus turning away [from the third person address], in which case [the particle] an, ‘that’, is extra and the ‘saying’ is implicit).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 1][AYAT 3]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
2of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:2

[017] Al Israa' Ayat 001

««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.

««•»»

Surah Al Israa' 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

««•»»
subhaana alladzii asraa bi'abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii'u albashiiru
««•»»
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya {847} agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
{847} Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
««•»»
Immaculate is He who carried His servant on a journey by night from the Sacred Mosque to the Farthest Mosque whose environs We have blessed, that We might show him some of Our signs. Indeed He is the All-hearing, the All-seeing.
««•»»
   
 Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya "Subhana", agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memulai firman Nya dengan "Subhana" dalam ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan Nya.

Dari kata-kata Isra' dapat dipahami bahwa Isra' Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam itu terjadi di waktu malam hari, karena memang demikian kata "asra" dalam bahasa Arab. Sedang disebutkan "Lailan", yang berarti di malam hari," adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra' itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisra' kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.

Dimaksud dengan "hamba Nya" di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.

Di dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra' Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis. Masjidilaksa itu terkenal pula dengan Haikal Sulaiman. Disebut demikian karena Nabi Sulaimanlah yang membinanya. Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang berarti "jauh", karena jauhnya dari kota Mekah.

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu juga karena mesjid itu termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.

Sesudah itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dibawa berjalan pada malam hari, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha Pencipta Nya.


Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.

Di akhir ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan semua perbuatan mereka. Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas dari pengamatan Nya.

Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra', yaitu perjalanan Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dari Masjidilharam ke Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama surah An Najm.

Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra' itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Peristiwanya satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam Az Zuhri Ibnu Saad dan lain-lainnya. Imam Nawawipun memastikan yang demikian. Bahkan menurut Ibnu Hasan bahwa peristiwa Isra' itu terjadi bulan Rajab tahun yang kedua belas dari diangkatnya Muhammad menjadi Nabi.

Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra' itu sebagai berikut:

Pertama :
ليلة أسري برسول الله صلى الله عليه وسلم من مسجد الكعبة أنه جاءه ثلاثة نفر قبل أن يوحى إليه وهو نائم في المسجد الحرام فقال أولهم: أيهم هو؟ فقال أوسطهم : هو خيرهم فقال أخرهم : خذوا خيرهم، فكانت تلك الليلة فلم يرهم حتى أتوه ليلة أخرى فيما يرى قلبه وتنام عينه ولا ينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولا تنام قلبهم -فلم يكلموه حتى احتملوه فوضعوه عند بئر زمزم فتولاه منهم جبريل فشق جبريل ما بين نحره إلى لبته حتى فرغ من صدره وجوفه فغسله من ماء زمزم بيده حتى أنقى جوفه ثم أتى بطشت من ذهب فيه نور من ذهب محشو إيمانا وحطمة فحشابه صدره ولغاديده يعني عروق حلقه
Pada malam dijalankannya Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dari Masjidilharam datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama: "Siapakah dia ini ? Kemudian orang kedua menjawab: "Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya). Setelah itu berkatalah orang ketiga : "Ambillah orang yang terbaik itu. Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidaklah berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zam-zam. Kemudian Jibril Alaihis Salam-ah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril Alaihis Salam membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril Alaihis Salam mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril Alaihis Salam membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya".
(H.R. Bukhari dan Anas)

Ke·dua:
Hadis riwayat Bukhari dari Sa'sa'ah:
إذا أتاني أت فقد فاستخرج قلبي، ثم أتيت بطشت من ذهب مملوءة إيمانا، فغسل قلبي ثم حشي (أعيد)
Bahwa Nabi Shalallaahu 'Alayhi Wasallam bersabda : "Datang kepadaku seseorang (Jibril Alaihis Salam). Kemudian ia mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi piala itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala." (H.R. Bukhari dari Sa'sa'ah).

Ke·tiga:
Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق وهو دابة أبيض فوق الحمار ودون البغال يضع حافره عند منتهى طرفه فركبته فسار بي حتى أتيت بيت المقدس فربطت الدابة بالحلقة التي يربط فيها الأنبياء ثم دخلت فصليت فيه ركعتين ثم خرجت فأتاني جبريل بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن فقال جبريل أصبت الفطرة

"Bahwa Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam bersabda : "Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari keledai yang lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril Alaihis Salam membawa kepadaku sebuah piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril Alaihis Salam berkata : "Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar".
(H.R. Ahmad dari Anas bin Malik).

Dari keterangan hadis-hadis tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam dijalankan di waktu malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril!. Sebelum Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam diperjalankan malam hari itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Perjalanan itu dilakukan dengan Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra' dan Mikraj hanya memerlukan waktu kurang dari satu malam, dari sesudah waktu `Isyak sampai sebelum subuh.

Adapun mengenai riwayat terjadinya Mikraj akan dijelaskan pada tafsir permulaan An Najm.

Di dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini tidak dijelaskan secara rinci; apakah Nabi Shalallaahu 'Alayhi Wasallam Isra' dengan ruh dan jasadnya, ataukah rohnya saja. Itulah sebabnya para mufassirin berbeda-beda pendapat mengenai hal tersebut. Sebagian besar mufassirin berpendapat bahwa Isra' itu dilakukan dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya ialah:

  • Kata (سُبْحَانَ) menunjukkan adanya peristiwa yang hebat, seumpama Nabi itu di-Isra'kan dalam keadaan tidur, tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan tasbih.
  • Andai kata Isra' itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Juga banyaknya orang muslim yang murtad kembali, lantaran adanya berita itu, menunjukkan peristiwa Isra' bukanlah peristiwa yang biasa. Lagi pula kata-kata Umu Hani' yang melarang Nabi menceritakannya kepada siapapun agar mereka tidak mendustakannya. Juga menguatkan bahwa Isra' itu dilakukan Nabi dengan ruh dan jasadnya. Dan peristiwa yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelaran "As-Siddiq" karena dia membenarkan Nabi Isra' dengan ruh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.
  • Bahwa firman Allah (بِعَبْدِهِ) menunjukkan suatu kesatuan bulat antara ruh dan jasad.
  • Perkataan Ibnu Abbas bahwa : Orang-orang Arab kerap kali pula menggunakan kata "ru'ya" dalam arti penglihatan mata, maka kata "ru'ya" yang tersebut dalam firman Allah: وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ (Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan Kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. QS. Al Israa' [17]:60)
  • Yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra' dan Mikrajnya adalah berarti penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modem. Segolongan mufassirin yang lain berpendapat bahwa Isra' dilakukan Nabi dengan rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan alasan-alasan.
  1. Bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan apabila ditanya tentang Isra' Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam beliau menjawab : كان رؤيا من الله صادقة... (Isra' Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.)
  2. Bahwa keluarga Abu Bakar r.a. berkata : ما فقد جسد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن أسري بروحه (Aisyah pernah berkata : "Jasad Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam (pada saat berisra') tidaklah lenyap, akan tetapi rohnyalah yang diisra'kan".)
  3. Bahwa Al Hasan berkata pada saat menafsirkan firman Allah "Bahwa yang dimaksud dengan ru'ya" dipakai khusus untuk orang tidur. Al Maragi di dalam tafsirnya mengemukakan beberapa kecaman terhadap alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan bahwa Nabi melakukan Isra' dengan rohnya saja, sbb:
  • Pendapat Muawiyah itu ada kelemahannya, yaitu pada waktu itu Muawiyah belum lagi masuk Islam, akan tetapi dia masih di dalam keadaan musyrik. Sebab itu, riwayatnya tidak boleh di terima.
  • Riwayat `Aisyah mendapat kecaman-kecaman dari para Muhaddisin karena pada saat itu `Aisyah masih kecil masih belum menjadi istri Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi zharaf.


Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam hari; disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit; oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis; dinamakan Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami.

(Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam; di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi; naik ke langit; melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. menceritakannya melalui sabdanya, "Aku diberi buraq; adalah seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanva. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmakdis.

Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi. Selanjutnya aku memasuki Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril Alaihis Salam seraya membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat Jibril  Alaihis Salam berkata, 'Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).'

Nabi Shalallaahu 'Alayhi Wasallam. melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril Alaihis Salam mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.'

Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam. Nabi Adam Alaihis Salam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril Alaihis Salammengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.'

Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya Alaihis Salam dan Nabi Isa Alaihis Salam. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku.

Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril Alaihis Salam mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.'

Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku.

Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril Alaihis Salam mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab. 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.

Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril Alaihis Salam mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Jibril.' Dan ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihis Salam, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.

Selanjutnya malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa Alaihis Salam, lalu Nabi Musa Alaihis Salam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku.

Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril Alaihis Salam menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur.

Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril Alaihis Salam membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya.


Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam melanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa Alaihis Salam (langit yang keenam).

Maka Nabi Musa Alaihis Salam bertanya kepadaku, 'Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?' Aku menjawab, 'Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.' Nabi Musa Alaihis Salam berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.'

Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, 'Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.' Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui Nabi Musa Alaihis Salam. Dan Nabi Musa Alaihis Salam bertanya, 'Apakah yang telah kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.' Maka Nabi Musa bertanya, 'Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.'

Rasulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa Alaihis Salam, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu.

Hingga akhirnya Allah berfirman,
'Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.'

Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa Alaihis Salam, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.' Maka aku menjawab, 'Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.'"
(Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim).

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah Shalallaahu 'Alayhi Wasallam telah bersabda, "Aku melihat Rabbku Azza Wajalla."
««•»»
Glory be to Him — an affirmation of [God’s] transcendence — Who carried His servant, Muhammad (s), by night (laylan is in the accusative as an adverbial qualification; isrā’ means ‘to travel by night’; what is instructive about this mention [of laylan, ‘by night’] is that, through its being indefinite, there is an indication of the brevity of its duration) from the Sacred Mosque, that is, Mecca, to the Farthest Mosque, the Holy House [of Jerusalem], so called because of its distance from the former; the environs of which We have blessed, with fruits and rivers, that We might show him some of Our signs, the marvels of Our power. Indeed He is the Hearing, the Seeing, that is to say, the Knower of the Prophet’s (s) sayings and deeds.


Thus He [God] was gracious to him by way of [carrying him on] the night journey, which comprised his encountering the [other] prophets, his ascension to heaven and the sight of the marvels of the [Divine] Realm and His communion, exalted be He, with him.

For he [the Prophet] (s) said: ‘I was brought al-Burāq, a white animal, larger than a donkey but smaller than a mule; it was able to place its hoof [back] towards its extremity and so I mounted it. It set off carrying me until I reached the Holy House [of Jerusalem]. [There] I fastened the animal to the ring where the prophets fasten [their animals]. I then went in and prayed two units inside it. As I came out, Gabriel came to me with a jug of wine and a jug of milk, and so I chose the milk. Gabriel said [to me], “You have made the right choice [by choosing] the primordial nature (fitra)”.’

He [the Prophet] continued [the narration], ‘We then ascended to the heaven of this world, whereat Gabriel asked to be let in. Someone asked, “Who are you?”. He replied, “Gabriel”, “And who is with you?”, “Muhammad (s)”, he said. “Has he been sent for?”. “Yes, he has been sent for”. Then it was opened for us, and lo! Adam stood before me; he greeted me and prayed for well-being for me. We then ascended to the second heaven and Gabriel asked to be let in. Someone asked, “Who are you?”. He replied, “Gabriel”, “And who is with you?”, “Muhammad (s)”, he said.««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 2]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:1

Kamis, 05 Februari 2015

[017] Al Israa' 2of2

2of2
111 Verses • revealed at Meccan.
««•»»
»The surah that mentions the miracle of The Night Journey, wherein God transported His servant Muḥammad in a single night from the Sacred Mosque of Mecca to al-Aqsa Mosque in Jerusalem, to show him some of His most wondrous signs. God caused Muhammad, in the space of a single night, to journey from Mecca to Jerusalem and from there to heaven and back again. It takes its name from this subject, as relating to the celestial journey (miʿrāj) of the Prophet, mentioned in verse 1 and again in verse 60. The surah is framed by references to the Children of Israel at the beginning, and to Pharaoh at the end. The bulk of the surah deals with the Quran as guidance and warning, Muḥammad, and the nature of prophecy, especially the fact that he is a human being and incapable himself of producing miracles. It also warns of Iblis’s promise to tempt mankind and of the fate of the disbelievers, and it gives a series of commandments (verse 22 ff.).«

The surah is also known as Glory, The Children of Israel
««•»»
•[AYAT 001]•[AYAT 002]•[AYAT 003]•[AYAT 004]•[AYAT 005]•[AYAT 006]•[AYAT 007]•[AYAT 008]•[AYAT 009]•[AYAT 010]•[AYAT 011]•[AYAT 012]•[AYAT 013]•[AYAT 014]•[AYAT 015]•[AYAT 016]•[AYAT 017]•[AYAT 018]•[AYAT 019]•[AYAT 020]•[AYAT 021]•[AYAT 022]•[AYAT 023]•[AYAT 024]•[AYAT 025]•[AYAT 026]•[AYAT 027]•[AYAT 028]•[AYAT 029]•[AYAT 030]•[AYAT 031]•[AYAT 032]•[AYAT 033]•[AYAT 034]•[AYAT 035]•[AYAT 036]•[AYAT 037]•[AYAT 038]•[AYAT 039]•[AYAT 040]•[AYAT 041]•[AYAT 042]•[AYAT 043]•[AYAT 044]•[AYAT 045]•[AYAT 046]•[AYAT 047]•[AYAT 048]•[AYAT 049]•[AYAT 050]•
•[AYAT 051]•[AYAT 052]•[AYAT 053]•[AYAT 054]•[AYAT 055]•[AYAT 056]•[AYAT 057]•[AYAT 058]•[AYAT 059]•[AYAT 060]•[AYAT 061]•[AYAT 062]•[AYAT 063]•[AYAT 064]•[AYAT 065]•[AYAT 066]•[AYAT 067]•[AYAT 068]•[AYAT 069]•[AYAT 070]•[AYAT 071]•[AYAT 072]•[AYAT 073]•[AYAT 074]•[AYAT 075]•[AYAT 076]•[AYAT 077]•[AYAT 078]•[AYAT 079]•[AYAT 080]•[AYAT 081]•[AYAT 082]•[AYAT 083]•[AYAT 084]•[AYAT 085]•[AYAT 086]•[AYAT 087]•[AYAT 088]•[AYAT 089]•[AYAT 090]•[AYAT 091]•[AYAT 092]•[AYAT 093]•[AYAT 094]•[AYAT 095]•[AYAT 096]•[AYAT 097]•[AYAT 098]•[AYAT 099]•[AYAT 100]•
•[AYAT 101]•[AYAT 102]•[AYAT 103]•[AYAT 104]•[AYAT 105]•[AYAT 106]•[AYAT 107]•[AYAT 108]•[AYAT 109]•[AYAT 110]•[AYAT 111]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Sumber: Al-Quran (القرآن) — Online Quran Project — Translation and Tafsir
http://al-quran.info/#17


[017] Al Israa' 1of2

1of2
111 Ayat • diturunkan di Mekah.
««•»»
Surah Al-Israa' (bahasa Arab: الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari", berhubung peristiwa Israa' Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam di Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis (Palestina) yang dicantumkan pada ayat pertama dalam surah ini. Surat ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israil dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 dimana Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israil pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.
««•»»

Pokok-pokok isi
  1. Keimanan: Allah tidak mempunyai anak, baik berupa manusia ataupun malaikat; Allah pasti memberi rezeki kepada manusia; Allah mempunyai nama-nama yang paling baik; Al Quran adalah wahyu dan Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.
  2. Hukum-hukum: Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia; berzina, mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama; ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan dan durhaka kepada ibu bapa. Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan salat lima waktu dalam waktunya.
  3. Kisah-kisah: Kisah Israa' Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam, beberapa kisah tentang Bani Israil.
  4. Dan lain-lain: Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya; beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat; petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat; manusia makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru; dan persoalan ruh.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
 [KEMBALI][AYAT-AYAT]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Isra%27
Mukaddimah terjemahan Al Qur'an versi Departemen Agama RI