Minggu, 19 April 2015

[017] Al Israa' Ayat 021

««•»»
Surah Al Israa' 21

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
««•»»
unzhur kayfa fadhdhalnaa ba'dhahum 'alaa ba'dhin walal-aakhiratu akbaru darajaatin wa-akbaru tafdhiilaan
««•»»
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.
««•»»
Observe how We have given some of them an advantage over some others; yet the Hereafter is surely greater in respect of ranks and greater in respect of relative merit.[1]
[1] Or ‘greater in respect of preferment.’
««•»»

Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada seluruh manusia agar memperhatikan kemurahan Allah SWT yang telah diberikan kepada kedua golongan tersebut. Dari masing-masing golongan Allah SWT melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Dari masing-masing mereka itu, manusia akan mendapat pelajaran, karena meskipun masing-masing mereka itu berusaha untuk mencari rezeki dan kenikmatan dunia, namun akibatnya berbeda-beda. Nikmat Allah yang diberikan kepada mereka yang mengutamakan kehidupan dunia menyebabkan mereka bertambah ingkar kepada Zat yang memberikan nikmat itu. Sebaliknya nikmat yang diberikan kepada mereka yang mengutamakan kehidupan akhirat menyebabkan mereka semakin mensyukuri Zat yang memberikan nikmat itu.

Allah SWT berfirman:
وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu.
(Q.S. Al An'am [6]:165)

Dan firman Nya lagi:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain."
(QS. Az Zukhruf [43]:32)
Demikianlah seseorang harus mengutamakan kehidupan akhirat karena kehidupan akhirat adalah lebih tinggi derajatnya dan lebih utama dari kehidupan dunia.

Mengenai kehidupan di akhirat ini digambarkan dalam hadis:
أهل الدرجات العلى ليرون عليين كما ترون الكوكب الغابر في السماء
"Bersabda Nab saw: "Sesungguhnya orang yang merasa tinggi derajatnya itu akan melihat orang-orang yang mulia itu di akhirat, seperti engkau melihat bintang di ketinggian langit".
(HR. Bukhari dan Muslim)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Perhatikanlah bagaimana kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain) dalam hal rezeki dan derajat (Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi) lebih agung (kedudukannya dan lebih besar keutamaannya) daripada kehidupan dunia, oleh karenanya harus lebih dipentingkan dalam meraihnya.

««•»»
See how We have given preference to some of them over others, in provision and renown. And truly the Hereafter is greater, grander, in degrees and greater in preferment, to this world, and so one ought to devote one’s attention to it [the Hereafter], to the exclusion of the other.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 20][AYAT 22]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
21of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=21&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#17:21

[017] Al Israa' Ayat 020

««•»»
Surah Al Israa' 20

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
««•»»
kullan numiddu haaulaa-i wahaaulaa-i min 'athaa-i rabbika wamaa kaana 'athaau rabbika mahtsuuraan
««•»»
Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu {849} Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.
{849} Yang dimaksud baik golongan ini maupun golongan itu ialah mereka yang tersebut dalam ayat 18 dan 19 di atas.
««•»»
To these and to those—to all We extend the bounty of your Lord, and the bounty of your Lord is not confined.
««•»»

Kemudian dari pada itu Allah SWT menegaskan bahwa kepada kedua golongan itu akan dilimpahkan kemurahan Nya. Maksudnya baik golongan yang mencintai kehidupan duniawi, ataupun golongan yang lebih menyukai kebahagiaan akhirat dan akan merasakan kemurahan Tuhan di dunia ini secara sama, mereka akan diberi rezeki dan dibiarkan memperkembangkan keturunan, karena kemurahan Tuhan Yang Maha Luas tidak terhalang karena ingkarnya seseorang kepada Nya.

Karena itulah kedua golongan itu sama-sama dapat mencicipi kelezatan hidup di dunia, sesuai dengan usaha mereka masing-masing. Akan tetapi kedua golongan itu tidaklah akan merasakan kasih sayang Allah yang sama. Mereka yang mengutamakan kehidupan dunia, akan memasuki neraka Jahanam sebagai tempat yang pantas untuk mereka sedangkan mereka yang lebih mengutamakan kehidupan akhirat, akan memasuki surga sebagai tempat yang penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada putusnya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kepada masing-masing) dari kedua golongan itu (Kami membantu) memberikan bantuan (baik kepada golongan ini maupun golongan itu) kalimat ayat ini menjadi badal (dari) bertaalluq kepada lafal numiddu (kemurahan Rabbmu) di dunia (Dan tiadalah kemurahan Rabbmu) di dunia ini (dapat dihalangi) artinya tiada seorang pun yang terhalang dari kemurahan-Nya itu.
««•»»
Each, of the two parties, We supply, We give, [to] these and [to] those (hā’ūlā’ wa-hā’ūlā’ is a substitute [for kullan, ‘each’) from (min is semantically connected to numiddu, ‘We supply’) from your Lord’s bounty, in this world. And your Lord’s bounty, therein, is not confined, [it is not] forbidden to anyone.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 19][AYAT 21]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
20of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net\
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=20&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#17:20

[017] Al Israa' Ayat 019

««•»»
Surah Al Israa' 19

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
««•»»
waman araada al-aakhirata wasa'aa lahaa sa'yahaa wahuwa mu/minun faulaa-ika kaana sa'yuhum masykuuraan
««•»»
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
««•»»
Whoever desires the Hereafter and strives for it with an endeavour worthy of it, should he be faithful —the endeavour of such will be well-appreciated.
««•»»

Di dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan golongan yang kedua. Allah SWT menyatakan bahwa barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang dirinya tetap beriman, maka dialah orang yang usahanya mendapat balasan yang baik.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang menghendaki kehidupan akhirat, ialah orang-orang mencita-citakan kebahagiaan hidup di akhirat, sedang ia berusaha untuk mendapatkannya dengan mematuhi bimbingan Allah serta menjauhi tuntutan hawa nafsunya.

Orang yang demikian ini selama hidup di dunia menganggap bahwa kenikmatan hidup di dunia serta kemewahannya adalah nikmat Allah yang digunakan sebagai sarana untuk kepentingan mengabdi kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya.

Itulah sebabnya, maka di akhir ayat ini Allah SWT menandaskan bahwa orang yang demikian itulah yang akan mendapat pembalasan dari Allah dengan pahala yang berlimpah-limpah, sebagai imbalan dan amalnya yang saleh dan ketabahannya melawan kehendak hawa nafsunya. Ia akan dimasukkan ke dalam surga firdaus dan kekal selama-lamanya di sana.

Di dalam ayat ini disebut tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang itu mencapai kebahagiaan yang abadi yakni:
  1. Adanya kehendak untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan mengutamakan kebahagiaan akhirat di atas kepentingan duniawi.
  2. Hendaklah ia melakukan amal-amalan yang mengantar niatnya kepada kebahagiaan akhirat yaitu dengan jalan menaati perintah Allah dan selalu mendekatkan diri kepada Nya.
  3. Hendaklah dia menjadi orang mukmin, karena iman adalah merupakan dasar untuk diterima atau tidaknya amal perbuatan. Seseorang yang hatinya kosong dari iman, tidak akan mungkin menerima kebahagiaan yang abadi itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh) yakni ia beramal dengan amal yang dengannya ia berhak untuk mendapatkan kehidupan akhirat (sedangkan ia adalah mukmin) kalimat ini berkedudukan menjadi hal (maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik) di sisi Allah; artinya amalnya diterima oleh-Nya dan mendapat pahala dari-Nya.
««•»»
And whoever desires the Hereafter and strives for it with the necessary effort, [that is] he performs the deeds worthy of it, being a believer (wa-huwa mu’minun is a circumstantial qualifier) — for such their effort will find favour, with God, that is, [their effort will be] accepted and rewarded.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 18][AYAT 20]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
19of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=19&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:19

[017] Al Israa' Ayat 018

««•»»
Surah Al Israa' 18

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا
««•»»
man kaana yuriidu al'aajilata 'ajjalnaa lahu fiihaa maa nasyaau liman nuriidu tsumma ja'alnaa lahu jahannama yashlaahaa madzmuuman madhuuraan
««•»»
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
««•»»
Whoever desires this transitory life, We expedite for him therein whatever We wish, for whomever We desire. Then We appoint hell for him, to enter it, blameful and spurned.
««•»»

Kemudian Allah SWT menyebutkan dua golongan manusia yaitu golongan yang mencintai kehidupan dunia, dan golongan yang mencintai kehidupan akhirat.

Di dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan golongan yang pertama, sedangkan golongan yang lain, disebutkan dalam ayat berikutnya. Di dalam menyebutkan golongan yang pertama, Allah SWT menyatakan bahwa barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia yang kenikmatannya segera mereka rasakan, maka Allah SWT menyegerakan keinginan mereka itu di dunia sesuai dengan kehendaknya.

Pernyataan ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan, sehingga mereka berkeyakinan bahwa tidak ada kehidupan lagi sesudah kehidupan di dunia ini. Itulah sebabnya maka mereka terlalu tamak dan rakus terhadap kekayaan dunia dan kemewahannya, padahal kehidupan dunia serta kenikmatannya adalah bersifat sementara. Itulah sebabnya, kehidupan di dunia serta kemewahan itu oleh Allah SWT digambarkan sebagai suatu yang segera dapat diperoleh, tetapi segera pula musnah.

Kemudian Allah SWT mengancam mereka dengan ancaman neraka Jahanam sebagai imbalan yang pantas bagi mereka. Di dunia mereka akan mengalami penyesalan-penyesalan yang sedalam-dalamnya, akibat berpisah dengan kemewahan dunia yang sangat mereka cintai itu, yaitu pada saat ajal telah merenggut mereka. Sedang di akhirat mereka akan mengalami penderitaan yang senista-nistanya, karena menyesali perbuatan yang tercela, dan jauh pula dari nikmat Allah.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Barang siapa yang menghendaki) dengan amalnya (kehidupan sekarang) yakni perkara duniawi (maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki) lafal liman menjadi badal dari lafal lahuu yang juga disertai pengulangan huruf jar (dan Kami tentukan baginya) di akhirat kelak (neraka Jahanam; ia akan memasukinya) dijebloskan ke dalamnya (dalam keadaan tercela) terhina (lagi terusir) dijauhkan dari rahmat Allah.
««•»»
Whoever desires, through his deeds, the hasty world, that is, [the life of] this world, We hasten for him therein whatever We will, for whom We please, [such] a hastening, (li-man nurīd, ‘for whom We please’, is a substitute for lahu, ‘for him’, with the repetition of the genitive particle [li-]). Then We appoint for him, in the Hereafter, Hell, to which he will be exposed, [to which] he will be admitted, condemned, blameful, and rejected, banished from [God’s] mercy.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 17][AYAT 19]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:18

Jumat, 27 Maret 2015

[017] Al Israa' Ayat 017

««•»»
Surah Al Israa' 17

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
««•»»
wakam ahlaknaa mina alquruuni min ba'di nuuhin wakafaa birabbika bidzunuubi 'ibaadihi khabiiran bashiiraan
««•»»
Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
««•»»
How many generations We have destroyed since Noah! Your Lord suffices as one well aware and percipient of His servants’ sins.
««•»»

Sesudah itu Allah SWT mengisahkan kaum-kaum yang mengalami nasib yang sama setelah Nuh. Mereka itu dibinasakan karena pembangkangan mereka terhadap utusan-utusan Allah, yang diutus Allah untuk menghentikan pembangkang-pembangkang itu, dan mengajak mereka kembali menaati Allah. Ayat ini sebagai penegasan terhadap ayat yang lalu, bahwa tiap kaum yang tetap membangkang setelah datangnya Rasul yang memberi peringatan kepada mereka, pasti akan mengalami nasib yang sama dengan umat-umat terdahulu.

Di akhir ayat Allah SWT menyebutkan bahwa balasan yang serupa itu adalah balasan yang bijaksana dan adil, karena Allah telah cukup mengetahui tindak tanduk mereka, lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan sudah berapa banyak) telah banyak (Kami binasakan umat-umat) bangsa-bangsa (sesudah Nuh. Dan cukuplah Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya) Dia mengetahui dosa-dosa mereka yang tersembunyi dan dosa-dosa mereka yang terang-terangan. Lafal bidzunuubi bertaalluq kepada lafal khabiiran dan bashiiran.
««•»»
How many — in other words, many — generations, communities, We have destroyed since Noah! And your Lord suffices as One Informed and Beholder of the sins of His servants, Knower of the hidden and manifest aspects of these [sins] (bi-rabbika, ‘your Lord’, is semantically connected to bi-dhunūb, ‘of the sins’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 16][AYAT 18]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
17of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=17&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:17

[017] Al Israa' Ayat 016

««•»»
Surah Al Israa' 16

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
««•»»
wa-idzaa aradnaa an nuhlika qaryatan amarnaa mutrafiihaa fafasaquu fiihaa fahaqqa 'alayhaa alqawlu fadammarnaahaa tadmiiraan
««•»»
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
««•»»
And when We desire to destroy a town We command its affluent ones [to obey Allah]. But they commit transgression in it, and so the word becomes due against it, and We destroy it utterly.
««•»»

Kemudian dari pada itu Allah SWT menjelaskan bahwa apabila Dia berkehendak membinasakan sesuatu negeri, maka Allah SWT kepada orang-orang yang hidup mewah di negerinya supaya menaati Allah. Maksudnya apabila sesuatu kaum telah melakukan kemaksiatan dan kejahatan secara merata, yang semestinya itu pantas dijatuhi siksaan dengan jalan menghancurkan negeri mereka dengan bencana alam, sebagai balasan yang setimpal, maka Allah SWT, karena keadilan Nya, tidaklah segera menjatuhkan siksaan itu, sebelum memberikan peringatan kepada para pemimpin mereka untuk menghentikan kemaksiatan dan kejahatan kaumnya dan kembali taat kepada Allah.

Akan tetapi menurut sejarah, mereka itu tidak mau mendengarkan peringatan itu, bahkan mereka menjadi pendurhaka-pendurhaka di dalam negeri itu dengan cara membangkang dan menentang peringatan itu dan memperolok-oloknya.

Maka sebagai tindakan yang pantas diperlakukan atas mereka, jalan memusnahkan mereka dari muka bumi dengan azab siksaan yang berupa bencana alam. Itulah ketentuan Allah yang tak dapat dielakkan lagi, yaitu Allah menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa, baik rumah-rumah mereka maupun harta kekayaan mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) yakni orang-orang kaya yang dimaksud para pemimpinnya, yaitu untuk taat kepada Kami melalui lisan rasul-rasul Kami (tetapi mereka melakukan kefasikan di negeri itu) maka menyimpanglah mereka dari perintah Kami (maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami) azab Kami (kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya) artinya Kami binasakan negeri itu dengan membinasakan penduduknya serta menghancurkan negerinya.
««•»»
And when We desire to destroy a town We command its affluent ones, those [inhabitants] of its who enjoy the graces [of God], meaning its leaders, [We command them] to obedience, by the tongue of Our messengers; but they fall into immorality therein, rebelling against Our command, and so the Word is justified concerning it, that it should be chastised, and We destroy it utterly, We annihilate it by annihilating its inhabitants and leaving it in ruins.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 15][AYAT 17]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:16

[017] Al Israa' Ayat 015

««•»»
Surah Al Israa' 15

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
««•»»
mani ihtadaa fa-innamaa yahtadii linafsihi waman dhalla fa-innamaa yadhillu 'alayhaa walaa taziru waaziratun wizra ukhraa wamaa kunnaa mu'adzdzibiina hattaa nab'atsa rasuulaan
««•»»
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
««•»»
Whoever is guided is guided only for [the good of] his own soul, and whoever goes astray, goes astray only to its detriment. No bearer shall bear another’s burden. We do not punish [any community] until We have sent [it] an apostle.
««•»»

Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah, yaitu orang-orang yang melaksanakan perintah perintah Nya dan menjauhi larangan-larangan Nya sesuai dengan tuntunan Rasul, maka berarti dia telah berbuat sesuatu yang menyelamatkan dirinya sendiri; karena ia akan menemui catatan-catatan tentang amal perbuatan baiknya di dalam kitab itu. Ia akan merasa berbahagia karena akan mendapatkan keridaan Allah, dan akan menerima imbalan yang berlimpah-limpah, yaitu surga dan yang serba menyenangkan. Akan tetapi barang siapa yang sesat, yaitu orang yang menyimpang dari bimbingan Alquran, dan menyesatkan dirinya sendiri sehingga ia mengalami kerugian. Ia akan menemui catatan-catatan tentang amal perbuatan buruknya di dalam kitab itu. Ia akan merasakan penyesalan yang tidak ada gunanya lagi, karena mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagai imbalan yang pantas baginya.

Sesudah itu Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, maksudnya tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatan buruknya sendiri, sehingga tidak mungkin seorang dibebani dosa selain dosanya sendiri. Dan mereka akan menerima balasan amalnya sesuai dengan berat ringannya kejahatan sendiri-sendiri.

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Walid bin Mugirah ketika ia berkata: "Ingkarilah Muhammad dan sayalah yang menanggung dosamu".

Dan apabila ada seorang yang disiksa karena menyesatkan orang lain, sehingga kepadanya dijatuhi hukuman yang pantas bagi orang yang disesatkan di samping dosanya sendiri, bukanlah berarti orang yang menyesatkan itu menanggung dosa orang yang disesatkan akan tetapi orang yang menyesatkan itu dianggap berdosa karena menyesatkan orang yang disesatkan itu. Oleh sebab itu ia dikenakan siksaan sesuai dengan dosanya sendiri, dan ditambah dengan dosa menyesatkan orang lain.

Allah SWT berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْم
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).
(QS. An Nahl [16]:25)

Dan firman Allah lagi:
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ
Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.
(QS. Al Ankabuut [29]:13)

Di akhir ayat Allah SWT menyebutkan bahwa Allah tidak akan mengazab sebelum Dia mengutus seorang Rasul. Maksudnya Allah tidak akan membebankan hukuman kepada orang-orang yang melakukan sesuatu perbuatan terkecuali setelah Allah mengutus seorang Rasul untuk membacakan dan menerangkan ketentuan hukumannya. Dengan demikian ayat ini dipandang sebagai asas legalitas dalam pidana Islam. Artinya semua perbuatan yang diancam dengan hukuman haruslah terlebih dahulu diundangkan melalui sarana perundang-undangan yang dapat menjamin bahwa peraturan ini dapat diketahui oleh seluruh rakyat.

Kecuali ayat ini mengandung maksud pula bahwa Allah tidak akan membinasakan umat karena dosanya, sebelum Dia mengutus seorang utusan yang memberi peringatan dan menyampaikan syariat Allah kepada mereka dan memberi peringatan apa yang akan dilakukan terhadap mereka, dan memberi ancaman jika mereka membangkang dan tetap dalam pembangkangannya.

Allah SWT berfirman:
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ
Artinya:
Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir) penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan ?". Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar".
(QS. Al Mulk [67]:8-9)

Dan firman Nya lagi:
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?. Maka rasakanlah (azab Kami). Dan tidak ada bagi yang lalim seorang penolongpun.
(QS. Faathir [35]:37)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya) karena pahala hidayahnya itu dia sendirilah yang memetiknya (dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri) karena sesungguhnya dia sendirilah yang menanggung dosa sesatnya itu. (Dan tidak dapat menanggung) seseorang (yang berdosa) pelaku dosa; artinya ia tidak dapat menanggung (dosa) orang (lain, dan Kami tidak akan mengazab) seorang pun (sebelum Kami mengutus seorang rasul) yang menjelaskan kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan.
««•»»
Whoever is guided, is guided only to [the good of] his own soul, because the reward of his guidance will be for him; and whoever goes astray, goes astray only to its [his soul’s] detriment, because the sin thereof will be held against it. No burdened, [no] sinful, soul shall bear the burden of another, soul. And We never chastise, anyone, until We have sent a messenger, to make clear to him that which is his obligation.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Tabrani dan lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Said Al-Khudri yang menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan,

yaitu firman-Nya,
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya."
(QS. Al-Israa [17]:26).

Lalu Rasulullah saw. memanggil Siti Fathimah, kemudian beliau memberinya tanah Fadak. Ibnu Katsir memberikan komentarnya, hal ini sulit untuk dimengerti, karena memberikan pengertian bahwa seolah-olah ayat ini diturunkan di Madinah. Padahal menurut pendapat yang masyhur diturunkan di Mekah. Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadis yang serupa melalui Ibnu Abbas r.a..

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya) karena pahala hidayahnya itu dia sendirilah yang memetiknya (dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri) karena sesungguhnya dia sendirilah yang menanggung dosa sesatnya itu. (Dan tidak dapat menanggung) seseorang (yang berdosa) pelaku dosa; artinya ia tidak dapat menanggung (dosa) orang (lain, dan Kami tidak akan mengazab) seorang pun (sebelum Kami mengutus seorang rasul) yang menjelaskan kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 14][AYAT 16]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=17&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#17:15